Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu (syar’i),
Allah akan memudahkan baginya dengan ilmu tersebut, jalan menuju surga.” - [HR. Muslim no. 2699].

Keutamaan Menepati Janji

Tidak ada komentar

Ada sebuah syair terkenal mengatakan :

إذا قلت في شيء نعم فأتمه
فإن نعم دين على الحر واجب
وإلا فقل لا واسترح وأرح بها
لئلا يقول الناس : إنك كاذب

“Apabila engkau telah mengatakan ‘Ya’ maka tunaikanlah
Karena ucapan ‘Ya’ adalah hutang yang wajib dilunasi;
Kalau tidak mampu, katakanlah ‘Tidak’ dan istirahatlah
Supaya orang lain tidak mengatakan : ‘Engkau pendusta’”.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ ۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

“Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti akan dimintai pertanggung jawabannya.”(QS.Al-Isra’:34).

Dan demikianlah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hambaNya yang beriman untuk senantiasa menjaga, memelihara, dan melaksanakan janjinya. Hal ini mencakup janji seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, janji hamba dengan hamba, dan janji atas dirinya sendiri.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ : إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخَْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik ada tiga; jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, jika dipercaya ia berkhianat.” [HR al-Bukhari no. 33; Muslim, no. 59, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu].[Lihat Tafsîrul-Qur`ânil-'Azhîm (5/239), Adhwâ`ul-Bayân (4/322)]

Ibnu Abdi Rabbihi menceritakan kisahnya dengan seorang tabi’in terkemuka bernama Ibnu Sirin (wafat 110 H), ia mengisahkan :

“Suatu hari aku berjanji dengan Ibnu Sirin untuk membelikannya hewan kurban, namun aku lupa karena ada kesibukan dan baru ingat setelah itu. Maka aku mendatanginya ketika sudah lewat tengah hari. Ternyata Ibnu Sirin masih menungguku.

Maka aku ucapkan salam, lalu ia mengangkat kepalanya dan berkata : “Akankah aku terima kesalahanmu?!”

Aku katakan : “Aku disibukkan oleh sahabat-sahabatku, mereka menghalangiku untuk mendatangimu.

Mereka mengatakan engkau (Ibnu Sirin) telah menunggumu lama, maka mungkin engkau telah pergi”.

Ibnu Sirin kemudian berkata: “Seandainya engkau tidak datang sampai matahari terbenam, aku tidak akan beranjak dari tempat ini kecuali untuk shalat dan kebutuhan-kebutuhan yang mendesak”. (Iltimas as-Sa’di fil Wafa bil Wa’di : 70-71, As-Sakhawi; dan Ash-Shamt : 459, Ibnu Abid Dunya).

Auf bin Nu’man radhiyallahu ‘anhu pernah berkata : “Di zaman jahiliyah, seseorang lebih baik mati dalam keadaan kehausan daripada ia mengingkari janji”. (Adab al-Imla wal Istimla : 41, As-Sam’ani; dan Tajrid Shahabah : 429, Adz-Dzahabi).

Amr bin Harits berkata: “Di zaman salaf aku jumpai orang yang berjanji pasti ia memenuhinya. Tapi di zaman sekarang aku merasa lelah dengan orang yang berjanji tapi mengingkarinya”. (Uyun al-Akhbar : 3/145, Ibnu Qutaibah).

Sulaiman bin Dawud berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, apabila engkau berjanji maka janganlah engkau mengingkarinya. Karena mengingkari janji dapat mengubah rasa cinta menjadi rasa benci”. (Adab al-Imla wal Istimla : 41).

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: “Telah menceritakan kepadaku Harun bin Sufyan al-Mustamli, dia berkata: Aku pernah bertanya kepada bapakmu -Ahmad bin Hanbal- : ‘Bagaimana engkau dapat mengetahui seseorang itu termasuk pendusta?’. Beliau menjawab : ‘Dari janji-janji mereka’.” (Ma’alim fi Thariq Thalab al-Ilmi : 164, Abdul Aziz as-Sadhan).

Semoga kita selalu mendapatkan taufiq dari Allah Ta’ala agar senantiasa kokoh diatas Sunnah. Dan Semoga bermanfaat. Wallaahu a’lam.

Sumber: BB Da’wah Ahlussunnah

Tidak ada komentar :

Posting Komentar